Close

April 15, 2017

Apa Bedanya Motorik Halus dan Motorik Kasar?

bedanya motorik halus dan motorik kasar

Sebagai orang tua, tentunya ayah dan ibunda menginginkan agar sang buah hati memiliki keterampilan motorik yang tumbuh dan berkembang sepesat mungkin. Dimana untuk memperoleh hasil yang optimal tersebut, tentunya harus ada stimulasi atau rangsangan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan si anak. Motorik yang dimiliki oleh si kecil sendiri terbagi menjadi 2, yakni motorik halus dan motorik kasar. Lantas, apa perbedaan antara keduanya ? Simak ulasannya berikut ini.

Motorik Halus

Motorik halus atau yang juga disebut sebagai fine motor skill ini merupakan keterampilan yang melibatkan otot-otot kecil dan memunculkan adanya koordinasi antara mata dan tangan dalam melakukan kegiatan. Dimana berbagai pergerakan sebagian anggota tubuh tersebut dipengaruhi dari adanya kesempatan untuk belajar dan berlatih.

Pada anak yang telah memasuki taman kanak-kanak, perkembangan motorik halusnya ditekankan pada koordinasi gerakan jari tangan untuk meletakkan atau memegang suatu objek tertentu. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat pada usia 4 tahun, koordinasi gerakan motorik halus yang dimiliki oleh sang anak akan mengalami perkembangan yang cukup pesat, bahkan dapat dikatakan hampir sempurna.

Di usia ini, si kecil biasanya masih belum mampu menyusun balok-balok menjadi suatu bangunan. Hal ini bukan tanpa alasan karena tingginya keinginan untuk meletakkan balok rupanya membuat bangunan tersebut runtuh secara tidak sengaja. Sedangkan ketika berusia 5 atau 6 tahun, gerakan motorik halusnya telah mampu berkembang dengan sangat pesat. Di usia ini, si buah hati telah mampu mengkoordinasikan seluruh gerakan visual motorik yang dimilikinya. Hal ini dapat dilihat ketika ia telah mampu untuk menulis atau menggambar. Pada kegiatan tersebut, gerakan mata pun mulai dikoordinasikan dengan bagian tubuh lainnya, yakni tangan, lengan dan tubuh dalam waktu yang bersamaan.

Motorik Kasar

Berbeda dengan motorik halus, motorik kasar ini lebih identik dengan penggunaan otot-otot besar atau sebagian besar atau bahkan seluruh anggota tubuh untuk melakukan aktivitas. Dimana gerakan tubuh tersebut dipengaruhi oleh tingkat kematangan masing-masing anak. Hal paling sederhana yang sering kita jumpai ialah kemampuan untuk menendang, naik turun tangga dan lain sebagainya.

Dalam motorik kasar ini, koordinasi gerakan tubuh pun sangat diperlukan agar tumbuh kembang jasmani berlangsung baik, contohnya saja melompat, berlari dan menjaga keseimbangan tubuhnya. Meskipun terbilang cukup sepele, namun kegiatan ini mampu meningkatkan keterampilan koordinasi gerakan dari motorik kasar.

Pada dasarnya, usia menentukan perkembangan dari motorik kasar si anak. Ketika berusia 4 tahun, banyak anak yang menyukai kegiatan fisik yang memiliki bahaya, contohnya melompat dari tempat yang tinggi. Sedangkan ketika ia telah memasuki usia 5 atau 6 tahun, ia mulai menyenangi berbagai kegiatan yang membutuhkan koordinasi berbagai anggota tubuh, contohnya balapan lari dan balapan sepeda.

Baik motorik halus maupun motorik kasar pada dasarnya pertumbuhnya dipengaruhi oleh kematangan fisik dari si anak. Dalam sebuah teori yang dikembangkan oleh Thelen & Whiteneyerr, yakni Dynamic System Theory mengungkapkan bahwa dalam membangun kemampuan motorik dari sang buah hati, orang tua harus mampu mempersepsikan suatu hal yang mampu memberikan motivasi, sehingga si kecil pun mau menggunakan persepsinya untuk bergerak. Pasalnya, kemampuan motorik yang dimiliki sang anak ini mampu merepresentasikan keinginan dari sang buah hati.

Tidak hanya itu, teori tersebut juga mengungkapkan bahwa dengan adanya motivasi untuk bergerak dan melakukan sebuah kegiatan, maka akan tercipta kemampuan motorik yang baru. Dimana kemampuan tersebut tidak tumbuh begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya kemampuan fisik untuk bergerak, perkembangan sistem saraf, keinginan untuk bergerak dan lain sebagainya.